Jumat, 11 Juli 2014

MANAJEMEN & KEPEMIMPINAN KONTINGENSI



1. PENGERTIAN MANAJEMEN
Dalam Encylopedia of the Social Sience dikatakan bahwa manajemen adalah suatu proses dengan mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi. Selanjutnya, Hilman mengatakan bahwa manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan yang sama.

Menurut pengertian yang kedua, manajemen adalah kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen. Jadi dengan kata lain, segenap orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam suatu badan tertentu disebut manajemen.

Menurut pengertian yang ketiga, manajemen adalah seni (Art) atau suatu ilmu pengetahuan. Mengenai ini pun sesungguhnya belum ada keseragaman pendapat, segolongan mengatakan bahwa manajemen adalah seni dan segolongan yang lain mengatakan bahwa manajemen adalah ilmu. Sesungguhnya kedua pendapat itu sama mengandung kebenarannya.

2. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.

Menurut Young (dalam Kartono, 2003) 
Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpnan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.

3. PENGERTIAN KONTINGENSI
Teori atau model kontingensi (Fiedler, 1967) sering disebut teori situasional karena teori ini mengemukakan kepemimpinan yang tergantung pada situasi. Model atau teori kontingensi Fiedler melihat bahwa kelompok efektif tergantung pada kecocokan antara gaya pemimpin yang berinteraksi dengan subordinatnya sehingga situasi menjadi pengendali dan berpengaruh terhadap pemimpin. Kepemimpinan tidak akan terjadi dalam satu kevakuman sosial atau lingkungan.  Para pemimpin mencoba melakukan pengaruhnya kepada anggota kelompok dalam kaitannya dengan situasi-situasi yang spesifik.

B. TEORI PAKAR
1. TEORI MANAGEMENT
Waren Haynes dan Joseph L. Massie dalarn bukunya Management Analysis Concept and cases. , membedakan enam aliran tcori manajemen, yaitu:
(1) Aliran Akuntansi Manajerial,
(2) aliran ekonomi manajerial,
(3) aliran thesis organisasi,
(4) aliran hubungan manusiawi dan perilaku manusia,
(5) aliran kuantitatif (matematik dan statistik), dan
(6) aliran teknik industri.

2. TEORI KEPEMIMPINAN
Model kepemimpinan pada path-goal berusaha meramalkan efektivitas kepemimpinan dalam berbagai situasi. Menurut model ini, pemimpin menjadi efektif karena pengaruh motivasi mereka yang positif, kemampuan untuk melaksanakan, dan kepuasan pengikutnya. Teorinya disebut sebagai path-goal karena memfokuskan pada bagaimana pimpinan mempengaruhi persepsi pengikutnya pada tujuan kerja, tujuan pengembangan diri, dan jalan untuk menggapai tujuan.

3. TEORI KONTINGENSI
Teori path-goal, teori path-goal adalah suatu model kontijensi kepemimpinan yang dikembangkan oleh Robert House, yang menyaring elemen-elemen dari penelitian Ohio State tentang kepemimpinan pada inisiating structure dan consideration serta teori pengharapan motivasi. Dasar dari teori ini adalah bahwa merupakan tugas pemimpin untuk membantu anggotanya dalam mencapai tujuan mereka dan untuk memberi arah dan dukungan atau keduanya yang dibutuhkan untuk menjamin tujuan mereka sesuai dengan tujuan kelompok atau organisasi secara keseluruhan.
Istilah path-goal ini datang dari keyakinan bahwa pemimpin yang efektif memperjelas jalur untuk membantu anggotanya dari awal sampai ke pencapaian tujuan mereka, dan menciptakan penelusuran disepanjang jalur yang lebih mudah dengan mengurangi hambatan dan pitfalls (Robbins, 2002).


C. MANAJEMEN KONTINGENSI
Rencana-rencana kontingensi adalah respon pengganti yang diformulasikan untuk mempengaruhi hubungan antara  situasi (yang tidak menyenangkan) dan outcome/hasil. Dengan kata lain bisa digambarkan sebagai berikut:
A = situasi ( serangan atau masalah)
B = rencana kontingensi
C = outcome/hasil ( keamanan dan keselamatan)
Hubungan antara A dan C diperbaiki oleh B. Strategi manajemen membutuhkan informasi yang harus ada untuk menakasir dan membatasi alternatif yang disiapkan.
Teori kontingensi menekankan bahwa keragaman permintaan dan kebutuhan lingkungan menuntut keragaman respon organisasi. Prosedur operasi standar (SOP) tidak seluruhnya cocok dalam menghadapi segala jenis permintaan.
Konsep-konsep kekuatan, target dan sumber sangat penting dalam mendiagnosa karakteristik tertentu dari permintaan lingkungan. Dalam konteks pendidikan kekuatan bisa berarti goncangan yang menghadang sekolah. Target goncangan berkaitan dengan bagian dari sistem sekolah yang menjadi fokus ketidakpuasan. Sedangkan sumber goncangan bisa berarti orang tua yang sangat keras. 
a)      Asumsi dasar
Teori kontingensi berasas pada beberapa asumsi dasar mengenai organisasi dan individu, diantaranya:
§  Middle Ground. Teori kontingensi menekankan pandangannya pada 2 hal: ada middle ground antara teori manajemen universal yang ada yang bisa digunakan oleh seluruh organisasi. Setiap organisasi adalah unik.
§  Tujuan-tujuan. Kebanyakan tujuan formal dan informal organisasi tumpang tindih dan tidak                   terkoordinasi dengan baik serta saling bertentangan.
§  Sistem terbuka. Seluruh organisasi adalah sistem yang terbuka.
§  Performa. Tingkat performa ditentukan oleh kecocokan antara harapan eksternal dan proses internal.
§  Fungsi dasar. Fungsi dasar dari administrasi terlihat untuk membantu mensejajarkan antara teknologi dan tugas lingkungan kedalam wilayah yang dapat terus berjalan, serta antara desain organisasi dan struktur yang ada padanya.
§  Jalan terbaik. Tidak ada satu jalan terbaik untuk seluruh organisasi dan administrasi.
§  Pendekatan-pendekatan. Berbagai pendekatan manajemen dibutuhkan untuk berbagai bagian dalam satu organisasi.
§  Gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan yang berbeda diperlukan untuk menghadapi masalah yang berbeda.
§  Permulaan.  Manajer mempunyai kesempatan untuk mengatasi masalah pada saat pertama kali masalah itu timbul.
§  Informasi. Manajer tidak bisa mengetahui seluruh yang terjadi disekelilingnya.

b)   Loosely Coupled System (sistem-sistem yang terangkai dengan longggar)
Ketika mencoba mengaplikasikan teori kontingensi dalam konteks struktur organisasi, pemecahan masalah dan perilaku kerja managerial, ketiganya paling tidak mempunyai ciri umum yaitu; rangkaian yang longgar. Rangkaian yang longgar memungkinkan bagi organisasi pendidikan untuk membuat gerakan yang adaptif dalam beberapa arah yang berbeda dengan berfokus pada berbagai problem pada saat bersamaan.
Minzberg telah mengidentifikasi beberapa metode yang bisa digunakan organisasi  untuk menjembatani gap dan mengetatkan kelonggaran yang terjadi; 1. saling menyesuaikan diri, koordinasi informal dalam pekerjaan, 2. supervisi langsung, satu orang mengambil tanggung jawab atas pekerjaan orang lain, 3. standarisasi kerja, memprogram konten dan prosedur kerja, 4. standarisasi output, kontrol kualitas melalui tes terstandarisasi, 5. enkulturasi, sosialisai informal dan training profesional memberi tekanan kepada norma organisasi
D. KEPEMIMPINAN KONTINGENSI
Teori kepemimpinan vroom & yetton adalah jenis teori kontingensi yang menitikberatkan pada hal pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemimpin. Teori vroom dan yetton juga di sebut teori normative karena mengarah pada pemberian suatu rekomendasi tentang gaya kepemimpinan yang sebaiknya di gunakan dalam situasi tertentu. Dalam hal ini ada 5 jenis cirri pengambilan keputusan dalam teori ini :

1.       A-I :  pemimpin mengambil sendiri keputusan berasarkan informasi yang ada padanya saat itu.
2.      A-II : pemimpin memperoleh informasi dari bawahannya dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang didapat. jadi peran bahawan hanya memberikan informasi, bukan memberikan alternatif.
3.       C-I :   pemimpin memberitahukan masalah yang sedang terjadi kepada bawahan secara pribadi, lalu kemudian memperoleh informasi tanpa mengumpulkan semua bawahannya secara kelompok, setelah itu mengambil keputusan dengan mempertimbangkan/ tidak gagasan dari bawahannya.
4.      C-II : pemimpin mengumpulkan semua bawahannya secara kelompok, lalu menanyakan gagasan mereka terhadap masalah yang sedang ada, dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan/tidak gagasan bawahannya
5.      G-II : pemimpin memberitahukan masalah kepada bawahanya secara berkelompok, lalu bersama – sama merundingkan jalan keluarnya, dan mengambil keputusan yang disetujui oleh semua pihak.
Contoh kepemimpinan yang menggunakan gaya kepemimpinan vroom dan yetton dalam mengambil keputusan adalah ketua Osis. Apabila dalam melaksanakan tugas mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan ketua Osis selalu meminta pendapat dari bawahannya. Dengan mengadakan rapat Osis di mana setiap anggota berkumpul dan memberikan saran atas masalah yang di hadapi.

Contohnya dalam menyelenggarakan hari kemerdekaan, bagaimana acara dapat berjalan dengan lancar serta bagaimana mendapatkan dana untuk menyelenggarakan acara tersebut. Ketua Osis menampung semua pendapat dari bendahara, seksi acara, seksi humas dll.

Dari contoh di atas dapat di ambil kesimpilan bahwa ketua Osis memakai gaya kepemimpinan G-II yaitu pemimpin memberitahukan masalah kepada bawahanya secara berkelompok, lalu bersama – sama merundingkan jalan keluarnya, dan mengambil keputusan yang disetujui oleh semua pihak.

KESIMPULAN
Manajemen Kontingensi Dan Kepemimpinan Kontingensi adalah keadaan yang tidak dapat ditebak pada waktu tertentu yang bisa saja mengundurkan niat untuk berproduktif dalam bekerja. Oleh karena sebagai Pemimpin haruslah dinamis dan tanggap pada setiap keadaan yang ditemui. Kontingengsi adalah bentuk rencana yang tidak ada dalam tahap perencanaan, namun telah diprediksi atau diperkirakan tentang apa yang akan dilakukan oleh Pemimpin.
Sehingga penyelesaian pada tahap-tahap selanjutnya dapat dilaksanakan tanpa ada hambatan. Demikian juga dalam praktek kehidupan sehari-hari maupun di tempat kerja yang banyak ditemui hal-hal yang seharusnya dapat dikendalikan tapi saat itu pula harus butuh kekuatan lain agar semuanya dapat terkendali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar