1. PENGERTIAN MANAJEMEN
Dalam Encylopedia of the Social
Sience dikatakan bahwa manajemen adalah suatu proses dengan mana pelaksanaan
suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi. Selanjutnya, Hilman
mengatakan bahwa manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui
kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan
yang sama.
Menurut pengertian yang kedua,
manajemen adalah kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen.
Jadi dengan kata lain, segenap orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen
dalam suatu badan tertentu disebut manajemen.
Menurut pengertian yang ketiga, manajemen
adalah seni (Art) atau suatu ilmu pengetahuan. Mengenai ini pun sesungguhnya
belum ada keseragaman pendapat, segolongan mengatakan bahwa manajemen adalah
seni dan segolongan yang lain mengatakan bahwa manajemen adalah ilmu.
Sesungguhnya kedua pendapat itu sama mengandung kebenarannya.
2. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam
Kartono, 2003) Pengertian
Kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau
bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing
orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.
Menurut Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
Dari
beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpnan merupakan kemampuan mempengaruhi
orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan
atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang
diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.
3. PENGERTIAN KONTINGENSI
Teori atau
model kontingensi (Fiedler, 1967) sering disebut teori situasional karena teori
ini mengemukakan kepemimpinan yang tergantung pada situasi. Model atau teori
kontingensi Fiedler melihat bahwa kelompok efektif tergantung pada kecocokan
antara gaya pemimpin yang berinteraksi dengan subordinatnya sehingga situasi
menjadi pengendali dan berpengaruh terhadap pemimpin. Kepemimpinan tidak akan
terjadi dalam satu kevakuman sosial atau lingkungan. Para pemimpin
mencoba melakukan pengaruhnya kepada anggota kelompok dalam kaitannya dengan
situasi-situasi yang spesifik.
B. TEORI PAKAR
1. TEORI MANAGEMENT
Waren Haynes dan Joseph L. Massie dalarn bukunya Management
Analysis Concept and cases. , membedakan enam aliran tcori manajemen, yaitu:
(1) Aliran Akuntansi Manajerial,
(2) aliran ekonomi manajerial,
(3) aliran thesis organisasi,
(4) aliran hubungan manusiawi dan perilaku manusia,
(5) aliran kuantitatif (matematik dan statistik), dan
(6) aliran teknik industri.
2. TEORI KEPEMIMPINAN
Model
kepemimpinan pada path-goal berusaha meramalkan efektivitas
kepemimpinan dalam berbagai situasi. Menurut model ini, pemimpin menjadi
efektif karena pengaruh motivasi mereka yang positif, kemampuan untuk
melaksanakan, dan kepuasan pengikutnya. Teorinya disebut sebagai path-goal karena
memfokuskan pada bagaimana pimpinan mempengaruhi persepsi pengikutnya pada
tujuan kerja, tujuan pengembangan diri, dan jalan untuk menggapai tujuan.
3. TEORI KONTINGENSI
Teori path-goal, teori path-goal adalah
suatu model kontijensi kepemimpinan yang dikembangkan oleh Robert House, yang
menyaring elemen-elemen dari penelitian Ohio State tentang kepemimpinan
pada inisiating structure dan consideration serta
teori pengharapan motivasi.
Dasar dari teori ini adalah bahwa merupakan
tugas pemimpin untuk membantu anggotanya dalam mencapai tujuan mereka dan untuk
memberi arah dan dukungan atau keduanya yang dibutuhkan untuk menjamin tujuan
mereka sesuai dengan tujuan kelompok atau organisasi secara keseluruhan.
Istilah path-goal ini
datang dari keyakinan bahwa pemimpin yang efektif memperjelas jalur untuk
membantu anggotanya dari awal sampai ke pencapaian tujuan mereka, dan
menciptakan penelusuran disepanjang jalur yang lebih mudah dengan mengurangi
hambatan dan pitfalls (Robbins, 2002).
C. MANAJEMEN KONTINGENSI
Rencana-rencana
kontingensi adalah respon pengganti yang diformulasikan untuk mempengaruhi
hubungan antara situasi (yang tidak
menyenangkan) dan outcome/hasil. Dengan kata lain bisa digambarkan sebagai
berikut:
A
= situasi ( serangan atau masalah)
B
= rencana kontingensi
C
= outcome/hasil ( keamanan dan keselamatan)
Hubungan
antara A dan C diperbaiki oleh B. Strategi manajemen membutuhkan informasi yang
harus ada untuk menakasir dan membatasi alternatif yang disiapkan.
Teori
kontingensi menekankan bahwa keragaman permintaan dan kebutuhan lingkungan
menuntut keragaman respon organisasi. Prosedur operasi standar (SOP) tidak
seluruhnya cocok dalam menghadapi segala jenis permintaan.
Konsep-konsep
kekuatan, target dan sumber sangat penting dalam mendiagnosa karakteristik
tertentu dari permintaan lingkungan. Dalam konteks pendidikan kekuatan bisa
berarti goncangan yang menghadang sekolah. Target goncangan berkaitan dengan
bagian dari sistem sekolah yang menjadi fokus ketidakpuasan. Sedangkan sumber
goncangan bisa berarti orang tua yang sangat keras.
a)
Asumsi
dasar
Teori
kontingensi berasas pada beberapa asumsi dasar mengenai organisasi dan
individu, diantaranya:
§
Middle
Ground. Teori kontingensi menekankan pandangannya pada 2 hal: ada middle ground
antara teori manajemen universal yang ada yang bisa digunakan oleh seluruh
organisasi. Setiap organisasi adalah unik.
§
Tujuan-tujuan.
Kebanyakan tujuan formal dan informal organisasi tumpang tindih dan tidak terkoordinasi dengan baik
serta saling bertentangan.
§
Sistem
terbuka. Seluruh organisasi adalah sistem yang terbuka.
§
Performa.
Tingkat performa ditentukan oleh kecocokan antara harapan eksternal dan proses
internal.
§
Fungsi
dasar. Fungsi dasar dari administrasi terlihat untuk membantu mensejajarkan
antara teknologi dan tugas lingkungan kedalam wilayah yang dapat terus
berjalan, serta antara desain organisasi dan struktur yang ada padanya.
§
Jalan
terbaik. Tidak ada satu jalan terbaik untuk seluruh organisasi dan
administrasi.
§
Pendekatan-pendekatan.
Berbagai pendekatan manajemen dibutuhkan untuk berbagai bagian dalam satu
organisasi.
§
Gaya
kepemimpinan. Gaya kepemimpinan yang berbeda diperlukan untuk menghadapi
masalah yang berbeda.
§
Permulaan. Manajer mempunyai kesempatan untuk mengatasi
masalah pada saat pertama kali masalah itu timbul.
§
Informasi.
Manajer tidak bisa mengetahui seluruh yang terjadi disekelilingnya.
b)
Loosely
Coupled System (sistem-sistem yang terangkai dengan longggar)
Ketika mencoba mengaplikasikan
teori kontingensi dalam konteks struktur organisasi, pemecahan masalah dan
perilaku kerja managerial, ketiganya paling tidak mempunyai ciri umum yaitu;
rangkaian yang longgar. Rangkaian yang longgar memungkinkan bagi organisasi
pendidikan untuk membuat gerakan yang adaptif dalam beberapa arah yang berbeda
dengan berfokus pada berbagai problem pada saat bersamaan.
Minzberg telah mengidentifikasi
beberapa metode yang bisa digunakan organisasi
untuk menjembatani gap dan mengetatkan kelonggaran yang terjadi; 1.
saling menyesuaikan diri, koordinasi informal dalam pekerjaan, 2. supervisi
langsung, satu orang mengambil tanggung jawab atas pekerjaan orang lain, 3.
standarisasi kerja, memprogram konten dan prosedur kerja, 4. standarisasi
output, kontrol kualitas melalui tes terstandarisasi, 5. enkulturasi,
sosialisai informal dan training profesional memberi tekanan kepada norma
organisasi
D. KEPEMIMPINAN KONTINGENSI
Teori kepemimpinan
vroom & yetton adalah jenis teori kontingensi yang menitikberatkan pada hal
pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemimpin. Teori vroom dan yetton juga
di sebut teori normative karena mengarah pada pemberian suatu rekomendasi
tentang gaya kepemimpinan yang sebaiknya di gunakan dalam situasi tertentu.
Dalam hal ini ada 5 jenis cirri pengambilan keputusan dalam teori ini :
1. A-I
: pemimpin mengambil sendiri keputusan
berasarkan informasi yang ada padanya saat itu.
2. A-II : pemimpin memperoleh informasi dari
bawahannya dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang didapat. jadi
peran bahawan hanya memberikan informasi, bukan memberikan alternatif.
3. C-I
: pemimpin memberitahukan masalah yang
sedang terjadi kepada bawahan secara pribadi, lalu kemudian memperoleh informasi
tanpa mengumpulkan semua bawahannya secara kelompok, setelah itu mengambil
keputusan dengan mempertimbangkan/ tidak gagasan dari bawahannya.
4. C-II : pemimpin mengumpulkan semua bawahannya
secara kelompok, lalu menanyakan gagasan mereka terhadap masalah yang sedang
ada, dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan/tidak gagasan bawahannya
5. G-II : pemimpin memberitahukan masalah kepada
bawahanya secara berkelompok, lalu bersama – sama merundingkan jalan keluarnya,
dan mengambil keputusan yang disetujui oleh semua pihak.
Contoh kepemimpinan yang menggunakan gaya
kepemimpinan vroom dan yetton dalam mengambil keputusan adalah ketua Osis.
Apabila dalam melaksanakan tugas mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan
ketua Osis selalu meminta pendapat dari bawahannya. Dengan mengadakan rapat
Osis di mana setiap anggota berkumpul dan memberikan saran atas masalah yang di
hadapi.
Contohnya dalam menyelenggarakan hari
kemerdekaan, bagaimana acara dapat berjalan dengan lancar serta bagaimana
mendapatkan dana untuk menyelenggarakan acara tersebut. Ketua Osis menampung
semua pendapat dari bendahara, seksi acara, seksi humas dll.
Dari contoh di atas dapat di ambil kesimpilan
bahwa ketua Osis memakai gaya kepemimpinan G-II yaitu pemimpin memberitahukan
masalah kepada bawahanya secara berkelompok, lalu bersama – sama merundingkan
jalan keluarnya, dan mengambil keputusan yang disetujui oleh semua pihak.
KESIMPULAN
Manajemen Kontingensi Dan
Kepemimpinan Kontingensi adalah keadaan yang tidak dapat ditebak pada waktu
tertentu yang bisa saja mengundurkan niat untuk berproduktif dalam bekerja.
Oleh karena sebagai Pemimpin haruslah dinamis dan tanggap pada setiap keadaan
yang ditemui. Kontingengsi adalah bentuk rencana yang tidak ada dalam tahap
perencanaan, namun telah diprediksi atau diperkirakan tentang apa yang akan
dilakukan oleh Pemimpin.
Sehingga penyelesaian pada
tahap-tahap selanjutnya dapat dilaksanakan tanpa ada hambatan. Demikian juga
dalam praktek kehidupan sehari-hari maupun di tempat kerja yang banyak ditemui
hal-hal yang seharusnya dapat dikendalikan tapi saat itu pula harus butuh
kekuatan lain agar semuanya dapat terkendali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar